Pekan Seni ala Akademia

Sivitas Akademika Seni Unsyiah, untuk ke sekian kalinya, kembali menggelar kegiatan publik yang menghadirkan tokoh bidang kebudayaan, pendidikan dan seni nasional, bekerjasama dengan beberapa instansi pemerintahan untuk bidang yang sama di Aceh.

Kamis 8 November 2018, tokoh pertama yang diundang adalah Dr. Stanislaus Sunardi, pengagum sastrawan besar Rendra, sekaligus peneliti senior bidang kajian Kebudayaan dan sastra. Dr. Sunardi yang sehari-harinya mengajar di Pascasarjana Universitas Sanata Dharma ini akan menjadi nara sumber utama untuk kegiatan Kuliah Tamu di Aula SMA Lab School Darussalam, Banda Aceh, yang menghadirkan Pendidik, Guru dan Dosen bidang pembelajaran Pendidikan, Kebudayaan dan Seni untuk tema “ Pengembangan Sumber Belajar untuk Pembelajaran Bidang Kebudayaan dan Seni Bagi Peserta Didik Tingkat Menengah dan Perguruan Tinggi.” Kegiatan perdana yang diselenggarakan atas Dana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) Unsyiah untuk tahun 2018 ini merangkul kebersamaan Sivitas Akademika Jurusan Pendidikan Seni FKIP Unsyiah dengan Dinas Pendidikan Aceh dalam menghimpun partisipasi dari 100 Guru SMA/SMK/MAN sederajat, Pegiat Budaya dan Dosen bidang pembelajaran kebudayan dan seni di Aceh untuk memberdayakan proses dan capaian dari kegiatan ini nanti secara maksimal.

Di minggu berikutnya, tepatnya Rabu pagi hari, 14 November 2018, dua kegiatan lainnya akan berlangsung secara paralel. Yang pertama adalah Semiloka Penulisan Publikasi Ilmiah yang akan difasilitasi oleh Dr. Gabriel Roosmargo Lono Lastoro Simatupang atau lebih dikenal dengan nama Lono Simatupang. Penulis buku “Pergelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni Budaya” yang juga Dosen Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada ini, akan memandu kepercayaan diri peneliti-peneliti muda di Aceh untuk bidang kajian Kebudayaan, Seni serta Ilmu Humaniora lainnya. Sebagai agenda kedua atas pemanfaatan dana BOPTN Unsyiah 2018 ini, Jurusan Pendidikan Seni FKIP Unsyiah menggandeng kerjasama dengan Balai Pelestarian dan Nilai Budaya (BPNB) wilayah kerja Aceh dan Sumatera Utara untuk menghadirkan naskah-naskah terbaru yang memiliki prospek cerah untuk didiseminasikan secara lebih luas melalui publikasi jurnal ilmiah terakreditasi di tingkat nasional maupun internasional. Kegiatan ini akan berlangsung secara intensif di Aula BPNB Banda Aceh dengan pendaftar maksimal 20 peneliti.

Sementara itu, masih di hari yang sama, pagi, Rabu 14 November 2018, juga akan berlangsung kegiatan Kuliah Umum bertajuk: “Pengembangan Kompetensi Pendidik, Peneliti, Pencipta Penyaji serta Pengelola Produksi dan Keorganisasian Seni Termutakhir dalam Basis Kearifan Lokal”. Kegiatan ini adalah kegiatan awal yang kemudian akan dilanjutkan siang harinya dengan kegiatan “Music Master Class” serta diakhiri dengan Resital Musik Gitar di malam harinya. Kegiatan yang menghimpun partisipasi publik yang lebih luas ini adalah juga memanfaatkan Dana BOPT Unsyiah tahun 2018 dengan menghadirkan sosok berkarakter, seniman akademik Dr. Royke Bobby Koapaha. Mas Roy, begitu sapaan akrab beliau, adalah seorang Composer sekaligus Arranger, Orchestrator sekaligus Music Director serta Lecturer sekaligus Music Interpreter untuk ratusan Komposisi dan Karya Gubahan serta Pertunjukan dan Lokakarya yang pernah dibuatnya. Juara Gitar Klasik se-Asia tahun 1982 ini merupakan alumni Akademi Musik Indonesia (sekarang ISI Yogyakarta) tahun 1980. Pembaharuan yang dihasilkan dari karya-karya komposisi musiknya diperoleh sebelumnya dari proses panjang pembelajarannya dengan beberapa komposer besar dunia seperti: Dieter Mack, Slamet Abdul Syukur, Philip Glass dan William Aves. Selaku Music Interpreter, Mas Roy tidak hanya serius untuk pertunjukan resital musik gitar klasik lintas zaman, baik dari Renaisance, Barok, Klasik, Romantik hingga Modern. Kepiawaiannya di dunia gitar juga diekspresikannya bersama seniman-seniman musik militan, baik di Bandung, Jogja dan Jakarta. Bersama salah satu muridnya di Aceh, Dr. Ari Palawi, Mas Roy akan memberikan persembahan khusus pertunjukan musik gitar klasik lintas zaman yang sangat berciri apresiatif. Dengan penjelasan yang dikomunikasikan dalam resitalnya nanti, audiens akan dapat menikmati beragam gaya dan karakteristik karya musik klasik dengan penuh pengertian.

Untuk rangkaian kegiatan yang terakhir ini, Kuliah Umum, Kelas Master Musik dan Resital Musik Gitar, Jurusan Pendidikan Seni FKIP Unsyiah bekerjasama dengan UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh. Kepala Taman Seni dan Budaya Aceh, Dra. Kemalawati berharap kerjasama ini dapat memperluas keterjangkauan masyarakat luas, khususnya para pegiat seni yang berkiprah dalam kompetensi profesionalisme di Aceh apapun, baik musik, rupa, tari dan lainnya, dalam mengoptimalkan akses ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan seni termutakhir untuk pembaharuan kegiatan-kegiatan kesenian di Aceh seterusnya. Dan Taman Seni dan Budaya Aceh adalah salah satu laboratoriumnya. Kerjasama empat pilar: Pemerintah, Seniman/Budayawam, Sekolah dan Perguruan Tinggi, serta Industri maupun Swasta lainnya harus terus digerakan demi kecemerlangan Aceh yang beradab sekaligus terbuka (kosmopolit), namun juga maju dan bermartabat dalam bersanding dengan kemajuan peradaban bangsa-bangsa lainnya di dunia.

Hal senada juga disampaikan Kepala BPNB wilayah kerja Aceh dan SUMUT, Irini Dewi Wanti. S.S., M.SP., yang melihat kebutuhan kerja bersama yang berkesinambungan untuk meningkatkan pemahaman sekaligus kesadaran atas sejarah kecermelangan peradaban Aceh melalui eksplorasi eksplorasi baru atas warisan sumber daya budaya Aceh yang penting selalu dihidupkan dalam diri generasi ke depan. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Aceh melalui Kepala Bidang Pembinaan SMA dan PKLK, Zulkifli, S.Pd., M.Pd., meyakini bahwa ilmu dan terapan pengetahuan bidang kebudayan dan seni adalah pembentuk karakter sumber daya manusia yang paling strategis untuk menghasilkan generasi yang tidak saja pintar, namun juga peka dan berakhlak mulia dalam membangun bangsa yang kuat dalam menghadapi sisi negatif globalisasi dunia yang semakin kian dahsyat ke depan. Rektor Universitas Syiah Kuala melalui Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Syiah Kuala, Prof. Djufri menyambut baik ikhtiar kebersamaan yang digerakkan oleh Jurisan Pendidikan Seni tahun ini, khususnya dalam memanfaatkan Dana BOPT Unsyiah tahun 2018. Beliau berharap agar kegiatan-kegiatan seperti yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Seni ini dapat berlanjut secara berkesinambungan hingga menjangkau partisipasi masyarakat yang lebih luas lagi, berkolaborasi, hingga bermuara prestasi.

Banda Aceh, November 5, 2018

Media Channel

Arts Department of Syiah Kuala University

Bagikan BERANDA ini

BERANDA Lainnya